
“Bagaimana rasanya minggu pertama di sana, honey?” suara manja dan merdu di ponselku sedikit mengurangi kekesalanku hari ini.
“Bad week!” kataku dengan ketus. “Tidak satu pun orang-orang di sini yang mengerti omonganku. Mereka benar-benar ketinggalan zaman. Rasanya orang-orang zaman batu lebih maju daripada mereka!”
Sebenarnya aku tidak habis pikir dengan negeri yang katanya gemah ripah loh jenawi ini. Tanda-tanda salah urus begitu vulgar terpampang di depan mata. Teknologi untuk bisnis cepat sekali merambah sampai ke pelosok desa, seperti desa tempatku ditugaskan sekarang ini. Sementara teknologi untuk dunia pendidikan tidak tahu kapan akan dinikmati anak-anak di sini. Semangatku langsung meredup menjadi satu watt. Aku tidak akan sanggup kalau harus mengajar dengan cara-cara kuno yang masih dipraktikkan para guru di sekolah baruku itu.
Untung saja operator seluler bisa memahami nasibku. Mereka sudah memasang tower komunikasi sebelum aku datang ke sini. Jadi, walaupun terdampar di desa yang sangat terpencil ini, aku masih bisa berkomunikasi dengan Siska, pacarku yang tinggal di kota. Mendengarkan suara manjanya itu bisa sedikit mengurangi kejengkelan dan kejenuhanku.
“Sabar saja, ya, Sayang! Memang butuh waktu untuk beradaptasi di lingkungan baru.” Dia terdengar berusaha memberi semangat. Tidak diragukan lagi kalau dia memang pacarku yang paling baik daripada pacar-pacarku sebelumnya. Tidak ada penyesalan bagiku untuk mencintainya sepenuh hati. Akan kuberikan segalanya untuk Siska.
“Jangan lupa sama janjimu, ya. Mungkin untuk satu bulan aku masih bisa bertahan. Tapi kalau sampai seumur hidup, tidak tahulah bakal menjadi apa aku nantinya! Rasanya kamu juga tidak bakal mau ikut tinggal di sini. Semuanya memprihatinkan. Semuanya mengenaskan. Kamu tidak akan bertahan sampai sebulan” kataku mendengus kesal, sambil mengomporinya. Sengaja dia kutakuti agar dia segera mengurusi kepindahanku.
“Tenang saja. Aku sudah ngomong sama Papa. Tunggu saja kabar baiknya, okey,” katanya meyakinkan.
“Oke, deh! Aku percaya kamu,” balasku sambil sedikit bernapas lega.
Janji Siska barusan cukup berhasil menjaga semangat dan harapan hidupku.
“Sudah dulu, ya, Sayang. Aku sudah mengantuk. Hari ini capek banget. I love you, Bibeh!”
“I love you, too.”
***
Keesokan harinya, dengan bersemangat yang makin redup aku kembali datang ke sekolah. Untuk menghindari para guru yang sok kenal sok akrab di kator, aku memilih berkeliling dari satu kelas ke kelas lainnya, mengamati para guru yang sedang mengajar.
Langkahku terhenti di depan kelas satu. Cara mengajar guru berhijab di dalam kelas itu lumayan juga, penuh kelembutan, senyuman, kasih sayang dan kewibawaan. Tapi sayangnya para siswa dibiarkan terlalu bebas. Suasana kelas menjadi sangat riuh. Anak-anak berlarian ke sana ke mari.
Aku tidak tahan mendengar kebisingan seperti itu. Ternyata ini masalahnya, siswa-siswa itu terlalu banyak bermain. Pantas saja mereka tidak tahu apa-apa ketika kutanya kemarin siang.
Merasa pegal, aku duduk di kursi kayu tepat di depan kelas satu. Kuedarkan pandangan ke arah lapangan. Sampah berserakan di mana-mana. Anak-anak kelas tiga baru saja selesai istirahat. Mereka masih belum sadar pentingnya menjaga kebersihan.
Terdengar ibu guru tadi menutup pelajaran.
“Sepertinya siswa-siswa tersebut sangat menyukaimu?” kataku kepadanya ketika ia baru saja keluar kelas dan lewat di depanku.
“Terima kasih.” balasnya singkat sambil tersenyum. “Bagaimana rasanya setelah seminggu kamu mengajar di sini?” katanya balik bertanya kepadaku.
“Mengesankan. Mereka sangat antusias belajar. Tampaknya selama ini mereka sudah mendapatkan bimbingan yang berkualitas dari guru berkelas dan juga cantik,” kataku sambil senyum yang dibuat-buat, dan mengarahkan jempolku ke arahnya. Tapi tentu saja itu cuma berbohong. Aku melihat dia sedikit tersipu malu. Dasar! Tidak bisa dipuji sedikit saja.
“Kalau lontong kemarin bagaimana?” tanyanya lagi.
“Enak sekali. Tapi kalau ada yang lain, boleh juga,” jawabku kembali berbohong.
Jujur saja, aku tidak terbiasa sarapan seperti itu. Perutku kemarin langsung berdemo ria dan memberontak setelah mendapat kunjungan makanan aneh itu. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Terpaksa lambungku harus berdamai dengan makanan memprihatinkan itu.
Guru wanita itu pun pamit ingin ke kantor. Senyum lebarnya mencoba membuatku terpesona. Tapi itu tidak mempan sama sekali.
Aku pun mempersilakannya. Mataku sempat menatap punggungnya. Langkahnya anggun sekaligus penuh percaya diri. Namanya Halimah. Hanya itu yang kutahu. Dan aku memang cuma ingin tahu itu. Tidak lebih.
***
Hari-hariku di desa ini berjalan begitu lamban. Matahari seolah enggan melintasi di atas kepalaku. Menurut kalender, baru dua bulan. Tapi aku merasakan seolah sudah dua abad.
“Sayaaaang! Sudah dua bulan. Kok belum ada kabarnya?” kataku merajuk kepada Siska ketika dia kembali menelepon.
Tempat tidur butut ini makin lama makin menyiksaku. Berbaring dengan posisi apa pun, tetap saja tidak nyaman.
“Kata Papa, banyak orang yang mengusulkan hal yang sama. Jadi, belum bisa diproses cepat. Tapi Papa janji bisa diurus kok. Kamu sabar dulu, ya.” jawabnya dengan suara tenang dan lembut. Nada suaranya itu mengisyaratkan kalau dia sudah berubah menjadi jauh lebih dewasa.
Satu-satunya alasan kenapa aku menerima ditempatkan dan bertahan di sini, ya, karena dia. Katanya waktu itu coba dulu tinggal beberapa bulan. Nanti papanya bisa mengurus kepindahanku ke kota. Papanya merupakan salah satu pejabat penting dan punya pengaruh di Dinas Pendidikan Provinsi. Pasti beliau bisa mengusahakan.
***
“Kamu baru bisa pindah di akhir semester,” akhirnya kata-kata yang sangat tidak kusukai harus kudengar dari Siska beberapa minggu kemudian.
“Hah!!!” teriakku kaget.
Kepalaku langsung berdenyut-denyut. Kekesalan mulai meluap-luap di dadaku. Bagaimanapun, aku tidak bisa berbuat apa-apa.
“Mau bagaimana lagi. Kata Papa, sekarang data sudah terintegrasi semua. Sulit untuk mengubahnya begitu saja,” tegasnya memberikan alasan kenapa urusan kepindahanku belum juga selesai.
“Ya sudah. Enggak apa-apa,” balasku pasrah.
Tak apalah menunggu setengah tahun lagi. Itu masih lebih baik dibandingkan tidak pindah sama sekali. Kalau aku memaksakan melarikan diri dari sini, tidak ada jaminan untuk masa depanku.
Saat ini mencari pekerjaan sangat susah, apalagi jika harus banting stir, tidak sesuai dengan keahlian. Aku sudah terlanjur kuliah di fakultas keguruan. Mau tidak mau harus kuterima nasib menjadi guru.
***
Enam bulan berlalu sudah. Aku mesti melaluinya dengan tertatih-tatih, seperti seorang musafir yang sedang melintasi gurun pasir tanpa membawa bekal air minum sedikit pun. Beruntung sekali aku masih hidup.
Hari ini, hari terakhir ujian semester untuk siswa SD. Berarti besok sampai dua minggu ke depan sekolah libur. Aku bisa kembali ke kota.
Sudah kuputuskan untuk tidak memberitahukan kepulanganku kepada Siska. Aku ingin membuat kejutan untuknya, sebagai bukti bahwa aku sangat mencintainya.
Perjalanan selama enam jam mesti kutempuh untuk kembali ke kota. Kendaraan yang kutumpangi jauh sekali jika ingin dikatakan layak. Di barisan kursi yang kududuki, ada lima orang termasuk aku. Idealnya kursi ini untuk tiga orang. Tapi karena banyak penumpang yang mau ke kota, aku mesti berbagi tempat duduk dengan mereka.
Penderitaanku sepanjang perjalanan pun terasa sangat lama. Tapi tidak apa-apa, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, malah mati kemudian. He he he… Enggaklah! Aku masih ingin hidup seribu tahun lagi. Sebentar lagi semua impianku akan terwujud. Akan kuurus tuntas kepindahanku ke kota.
“Selamat datang duniaku!!!” kataku histeris ketika baru saja turun di terminal di kota asalku.
Baru enam bulan kutinggalkan, banyak sekali perubahan pada wajah kota ini, tidak seperti desa yang kutinggali selama enam bulan kemarin. Orang kota memang orang yang dinamis, selalu ingin berubah menjadi lebih baik. Aku merasa benar-benar ketinggalan zaman setelah tinggal selama enam bulan di desa.
Sudah kurencanakan di mobil tadi kalau aku tidak akan langsung menuju rumah orang tuaku, melainkan menuju toko souvenir untuk membeli hadiah untuk Siska. Setelah mendapatkan hadiah yang kuanggap istimewa, langsung kulangkahkan kaki menuju ke rumahnya. Aku ingin cepat-cepat memberikan kejutan untuknya. Kerinduan yang kupendam sudah berton-ton beratnya.
Sudah menjadi kebiasaanku masuk ke rumah Siska tanpa mengucapkan salam. Apalagi sekarang aku memang ingin memberikan kejutan. Seperti biasa, rumahnya terasa sunyi dan lengang.
Kedua orang tua Siska sangat sibuk bekerja dan berbisnis. Ayahnya adalah pejabat di dinas pendidikan dan sering ditugaskan ke luar kota. Sementara ibunya sibuk menjalankan bisnis MLM, juga sering ke luar kota untuk meluaskan jaringannya.
Siska masih seperti dulu, kesepian. Dia anak rumahan, yang lebih senang menghabiskan waktu dengan main online games atau menulis, dibandingkan pergi ke Mall atau berdisko ria di diskotek. Itulah yang membuatku sangat mencintainya. Walaupun orang kota, dia tidak terlalu terpengaruh dengan arus kehidupan kota yang negatif.
Kulangkahkan kaki sepelan mungkin agar tidak bersuara. Langkahku langsung menuju ke kamarnya. Terlihat pintu kamar sedikit terbuka. Suara musik melankolis terdengar sayup-sayup dari celahnya.
Aku mengintip. Siska sedang menari. Tapi dia tidak sendirian…! Ada seseorang yang sedang mendekapnya…!
Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Darahku langsung memanas. Otot-ototku menegang. Aku pun melebarkan celah pintu.
Terlihat dua wajah. Sangat dekat. Bukan hanya dekat. Menyatu. Pada bagian bibir. Siska sedang…
Jgeeer!!! Suara pintu menghantam dinding kamarnya. Mereka berdua kaget. Saling melepaskan dekapan masing-masing. Mereka langsung saling menjauh.
“Doni???” Mereka mengucapkan namaku berbarengan. Kompak sekali.
“Jo???” kataku kaget luar biasa.
Hanya itu kata-kata yang mampu kuucapkan. Setelah itu, aku tidak sadar dan tidak tahu lagi di mana saja bogem mentahku mendarat di tubuh sahabat karibku itu. Bukan itu saja, kakiku ikut bermain.
Jonathan yang sudah tergeletak di lantai tidak melakukan perlawanan sama sekali. Dia hanya terdengar sedikit meringis, tapi tidak mencoba menghentikan aksiku. Mungkin karena dia merasa bersalah. Dia hanya mencoba melindungi bagian tubuhnya yang vital dengan kedua tangannya.
Sementara itu, Siska terdengar menjerit-jerit memintaku berhenti.
“Hentikan, Don!!! Hentikan!!! Kumohon hentikan!!!” teriaknya histeris sambil menangis sejadi-jadinya.
Setelah puas melampiaskan amarah, aku pun berhenti. Beberapa dettik tubuhku tegak mematung di depan Jo yang tergeletak di lantai. Kutatap matanya, tapi dia tidak berani menatap balik.
Aku sempat menoleh sekilas ke arah Siska sebelum melangkah cepat meninggalkan kamar. Setelah melewati pintu, kutarik gagang pintu lalu kubanting daun pintunya dengan kekuatan maksimal.
Kupercepat langkah kaki menuju pintu depan rumah. Setelah keluar, aku langsung berlari sekuat tenaga. Tidak tahu arah yang dituju, aku terus berlari dan berlari.
Menjelang malam, tanpa mampu kuingat bagaimana caranya, aku telah berada di depan sebuah kafe langgananku. Dengan langkah kaki yang mulai gontai karena kelelahan berlari tadi, aku masuk ke dalam kafe.
“Hai Don! Elo ke mana saja?” Bimo, bartender, yang pertama kali menyambutku.
“Elo seperti ditelan bumi, Bro.” Romeo, pelanggan kafe paling setia, ikut-ikutan menyapa.
“Wajah Elo kusut amat. Amat saja enggak kusut.” Satria yang selalu berlomba dengan Romeo untuk datang paling cepat ke kafe, mengamatiku agak lebih teliti.
Hampir semua pelayan dan pelanggan kafe yang jumlahnya belasan orang itu menyapaku. Mereka semua mengenalku. Tapi aku tidak menghiraukan mereka. Pikiranku masih dipenuhi dengan ketidakpercayaan akan apa yang baru saja kualami. Kejutan yang hendak kuberikan malah dibalas dengan kejutan yang jauh lebih mengejutkan dari Siska dan Jo. Mereka telah menghianatiku!
Aku memilih duduk di kursi dekat meja kasir tepat di depan Erwin, lalu memberi kode padanya. Sudah lama aku tidak minum-minum, terutama semenjak tinggal di desa. Sepertinya malam ini momen yang tepat untukku mengulang lagi kebiasaanku itu. Dia langsung menyiapkan pesananku hampir dalam hitungan detik.
***
Tidak tahu pasti sudah berapa hari aku menghabiskan waktu di kafe. Namun, bukannya bertambah tenang, kepalaku malah semakin pusing. Saat aku mulai kembali sadar, Joko mendekatiku. Dia membawaku ke kamarnya yang berada di belakang kafe.
Dia banyak bercerita tentang berbagai hal. Tapi kebanyakan tidak kuhiraukan. Satu-satunya ucapannya yang berkesan bagiku adalah masehatnya agar aku kembali lagi saja ke desa.
Dia bercerita kalau desa merupakan tempat yang tepat untuk menenangkan diri. Banyak orang kota yang mencari ketenangan di desa. Dan dia sering menemukan banyak yang berhasil. Kebanyakan dari mereka pada akhirnya membangun tempat tinggal di desa. Katanya mungkin itu juga akan berhasil padaku.
Dunia terkadang aneh, orang kota mau pergi ke desa. Sebaliknya orang desa mau pergi ke kota.
Dengan langkah sedikit sempoyongan kutinggalkan kamarnya menjelang tengah hari. Sebuah taksi online yang kupesan beberapa menit yang lalu langsung berhenti di depan parkiran kafe. Taksi itu bergerak meninggalkan kafe untuk mengantarku ke rumah orang tuaku.
Ketika aku datang, kedua orang tuaku sedang berada di rumah. Aku sempat menyalami dan mencium tangan mereka. Kernyitan di dahi mereka benar-benar tidak kusuka.
Tanpa menghiraukan ceramah dan pertanyaan mereka, aku pun langsung pergi lagi dari rumah. Aku tidak tahan mendengar nada bicara mereka yang selalu merendahkan dan menyalahkan.
Di depan teras rumah, tampak Ani, adik perempuanku, melangkah mendekat. Sepertinya dia baru pulang kuliah
“Kakakku sayang, kapan sampai? Mana hadiah untukku,” katanya langsung menggelayut manja di tanganku.
“Kakak baik-baik saja. Kakak mau kembali ke desa sekarang. Kamu belajar yang rajin, ya,” balasku masih sempat bersikap seperti seorang kakak yang bijak.
“Loj, kok mau balik lagi? Kita belum sempat belanja di Mall. Sekarang lagi ada diskon, Kak!” Dia merayuku. Dasar anak bungsu, manjanya minta ampun.
Aku hanya diam mematung, tidak merespon sama sekali.
“Oh, yah, Kak. Tadi Ani ketemu Siska. Dia menitipkan surat untuk Kakak,” lanjutnya sambil mempermainkan sebuah amplop di tangan kanannya.
“Zaman digital seperti ini, masih ada saja orang jadul seperti Siska.” katanya melanjutkan sambil terkekeh, mencoba menggodaku.
Dengan kasar kurebut amplop itu lalu kumasukkan ke kantong celana. Beberapa lembar uang lima puluh ribuan kukeluarkan dari dompet dan kuserahkan padanya.
Saat dia sedang melonjak-lonjak kegirangan, langsung kulangkahkan kaki, meninggalkannya, pergi dari rumah. Aku akan kembali ke desa.
***
Aku sedang duduk terdiam di beranda rumah, baru saja selesai membaca surat Siska, ketika suara deritan lantai kayu mengagetkanku.
“Assalamu’alaikum,” suara Halimah terdengar merdu. Seperti biasa, dia datang membawa keranjang makanan.
“Wa’alaikum salam.,” timpalku. Tidak seperti biasanya, kali ini aku tergoda untuk membalas salamnya.
Halimah meletakkan keranjang makanan di atas meja. Awalnya dia ingin langsung pulang. Tapi kucegah.
“Jangan pulang dulu” pintaku padanya.
Dia pun berbalik badan, menoleh kepadaku, lalu duduk di kursi tepat di sebelah kananku.
“Kenapa kamu terlihat kusut begitu?” tanyanya kemudian memulai pembicaraan. Tampaknya dia tidak tahan kudiamkan.
“Impian dan harapanku… semua musnah sudah. Tidak ada gunanya lagi aku hidup.” Akhirnya aku bersuara.
Tanpa diminta, kuceritakan apa yang barusan kualami. Entah kenapa, aku begitu terbuka kepadanya. Sepertinya aku sedang butuh tempat untuk bercerita dan berbagi. Dia pun menyimak dengan serius, tanpa sedikit pun menyela.
Setelah cukup lama saling berdiam diri, akhirnya Halimah kembali memecah kesunyian.
“Tidak selamanya impian dan harapan dapat kita wujudkan. Ketika sebuah impian atau harapan tidak terwujud, bukan berarti hidup pun berakhir. Kita masih bisa membuat impian dan harapan baru. Karena harapan dan impian yang baru masih tersedia untuk kita. Tinggal dimunculkan saja.”
Aku tidak memberikan tanggapan. Tatapanku masih kosong ke arah jalan setapak di depan rumah. Sesekali kutolehkan wajah, melirik ke arahnya.
Halimah menatapku dan meneruskan ceritanya.
“Dulu aku juga pernah punya mimpi dan harapan yang tinggi. Bahkan, tiga tahun yang lalu, aku hampir bisa mewujudkannya. Tapi sebuah musibah merenggut semuanya.”
Aku masih diam. Tapi tetap mendengarkan.
“Aku bercita-cita kuliah di luar negeri.” Dia menyebutkan impian dan harapannya. “Setamat dari SMA, aku diterima di salah satu kampus terbaik di pulau Jawa. Kuliahku berjalan lancar. Menjelang wisuda, aku ikut tes beasiswa untuk kuliah ke Amerika. Aku berhasil lolos. Cita-citaku untuk kuliah di luar negeri hampir bisa kuwujudkan. Yang lebih menggembirakan, Pacarku juga lolos di Amerika di kota yang sama. Berarti kami benar-benar tidak terpisahkan. Romeo-Juliet mewujudkan impian di negeri paman Sam. Begitulah khayalanku menjelang keberangkatan.”
Dia terdiam sejenak. Matanya mulai berkaca-kaca. Beberapa menit kemudian, dia kembali bercerita
“Tapi… Menjelang keberangkatanku, Ibuku sakit keras di desa. Aku mesti memilih, berangkat ke Amerika atau merawat ibuku. Di desa, Ibu kesepian. Ayah menikah lagi. Adik-adikku masih kecil. Pacarku menyuruhku tetap berangkat. Inilah saat yang menentukan masa depanku. Tapi aku memutuskan lain. Aku memilih merawat ibuku dan melupakan beasiswa itu.”
Air mata mulai menyembul di sudut matanya. Masa lalunya itu tampaknya sangat menyakitkan.
Sementara aku hanya bisa bengong mendengar kisahnya itu.
“Hampir dua tahun aku merawat ibuku, sampai beasiswa yang ditawarkan padaku kadaluarsa. Pada akhirnya ibuku pun tidak tertolong. Ia meninggal dunia setelah hampir dua tahun terbaring di tempat tidur.” Dia terus bercerita sambil terisak-isak. Air matanya semakin mengalir deras.
“Sekarang aku harus tinggal lebih lama di desa ini untuk merawat dan menyekolahkan adik-adikku,” lanjutnya.
Lha?! Aku yang sedang menghadapi masalah, kenapa dia yang menangis. Aku tidak habis pikir.
“Aku juga sempat berpikir seperti yang sedang kamu pikirkan sekarang. Untuk apa lagi aku hidup?” katanya terus bercerita.
Aku tetap diam. Perlahan tapi pasti, aku mulai merasakan semangatku muncul kembali. Ternyata aku bukan satu-satunya orang yang menderita di dunia ini.
“Beruntung aku punya teman-teman yang baik. Aku ikut pengajian di desa ini. Dari pengajian tersebut aku mendapat semangat baru. Aku punya impian dan harapan yang baru. Aku dikenalkan dengan ajaran-ajaran agama.”
Wajahnya kembali tampak ceria dan bersemangat.
“Kita hidup ternyata sudah direncanakan Allah. Kita sudah diberi tahu oleh Allah untuk apa kita hidup, melalui Al Qur’an yang disampaikan lewat perantaraan Nabi Muhammad SAW.” ujarnya melanjutkan dengan menceritakan sesuatu yang terasa sangat asing bagiku.
“Kini aku merasa jauh lebih baik. Dan aku sangat mencintai duniaku yang sekarang. Kini aku bertekad akan membantu anak-anak di sini mewujudkan cita-cita mereka,” tambahnya dengan penuh semangat menunjukkan komitmennya terhadap profesinya yang sekarang, sebagai seorang guru.
Tangisannya barusan berubah menjadi sebuah senyuman. Senyuman yang begitu indah.
Aku menatap wajah Halimah. Ternyata dia lumayan cantik. Kulit wajahnya kuning langsat dan mulus. Hidungnya agak mancung sedikit. Dagunya tirus.
Wajah yang teduh dan murah senyum ini, ternyata pernah juga melewati penderitaan yang begitu berat. Entah kenapa, kini wajah itu makin terlihat indah,. Wajahnya penuh cahaya. Bukan hanya cerita dan pesan-pesannya yang membuat kesejukan di hatiku, pancaran aura dari rona wajahnya menimbulkan kesejukan yang lain.
Agama. Sebuah kata yang membuat wajah yang teduh dan tampak lemah itu mampu tegar dan bertahan hidup. Sedangkan aku???
***
Untuk Doni,
Sebelumnya aku minta maaf. Aku menulis surat ini karena aku yakin kamu tidak akan mau menemuiku lagi. Aku tahu, kamu sangat kecewa denganku.
Aku ingin jujur. Aku mencintai Jonathan, dari dulu. Dia baik dan perhatian. Dia tahu bagaimana caranya memperlakukan wanita.
Selama ini, aku merasa tersiksa pacaran denganmu. Kamu egois. Selalu minta diperhatikan, namun tidak pernah memperhatikan. Kamu tidak pernah mengerti kebutuhanku, perasaanku. Aku pikir, setelah tinggal di desa kamu bisa berubah. Tapi kenyataannya tidak. Aku malah jadi berpikir kalo kamu hanya ingin memanfaatkan aku demi kepentinganmu. Sebenarnya kamu tidak pernah mencintaiku, bukan?!
Aku juga minta maaf telah membohongimu. Aku enggak pernah ngomong apa pun sama Papa tentang keinginanmu pindah ke kota. Jadi Papa enggak pernah mengurus kepindahanmu.
Aku hanya berharap kamu bisa merelakan aku hidup bahagia. Dengan Jo. Ia tulus mencintaiku. Jangan pernah membenci kami.
Aku juga berharap kamu bisa menemukan penggantiku yang lebih baik.
Sekali lagi aku minta maaf.
Siska
Dari surat itu, ending kisahku dengannya sudah jelas, tidak ada harapan lagi. Langsung kurobek-robek surat itu lalu kutaburkan serpihan-serpihan halusnya ke jurang di hadapanku. Biarlah kertas-kertas itu bertebaran ke mana-mana, tak tentu arah, terbawa arus sang bayu yang semakin liar. Seperti harapanku, yang telah terbang entah ke mana?
Entah dari mana asalnya,terlintas bisikan jahat yang menyuruhku menyusul robekan-robekan kertas tadi. Aku sempat tergoda. Aku ingin terbang mengikuti arus sang bayu, ke tempat yang tak dikenali, tidak untuk kembali.
Namun terngiang juga kata-kata lain yang bertolak belakang.
“Harapan dan impian baru masih tersedia untuk kita.”
Makin lama, suara yang melapaskan kata-kata itu making terdengar nyaring. Sulit kumengerti kenapa kata-kata itu terus terngiang-ngiang di benakku. Tapi tetap saja kebenarannya kuragukan.
Beberapa detik kemudian terbersit bayangan wanita yang mendengungkan kata-kata itu sebelumnya. Apakah dia adalah harapan dan impian baruku?
Tidak. Aku tidak boleh terlalu berharap. Harapan baru itu baru ingin kutumbuhkan. Aku baru mau memulai langkah baru. Itu pun kalau aku masih bisa mengangkat kaki dan melangkah.
Kuurungkan niat menyusul robekan kertas tadi. Kubalikkan badan, melangkah menjauhi jurang, dan kembali ke rumah.
***
Pengabdian dan pencarian tanpa henti. Itulah tujuan hidup yang kini kuikrarkan. Aku telah merenungkannya cukup lama. Belajar dari semua pengalaman yang pernah kulalui. Belajar dari orang-orang yang aku kagumi. Terutama tokoh yang dikenalkan istriku, Rasulullah SAW, seorang tokoh paling besar dan paling berpengaruh sepanjang zaman.
Sudah kuputuskan untuk mengabdikan diri di desa ini, untuk menjadikan anak-anak di desa ini sebagai pencuri. JAngan salah sangka dulu. Aku akan menjadikan mereka “pencuri perhatian dunia dengan prestasi.”
Kusadari bahwa perjuanganku akan berat. Tapi aku punya penyemangat. Aku punya sumber inspirasi. Aku punya cinta.
Aku mencintai pekerjaanku. Aku mencintai desa ini. Aku mencintai istriku, Halimah. Tapi aku masih sedang mencari cinta hakiki, dari Zat Yang Menciptakan Cinta, Allah. Itulah mimpi dan harapan baru yang sedang kutuju.


Tinggalkan komentar