Modal Dasar Menjadi Penulis Konsisten

Penulis profesional sudah menjadi profesi yang menjanjikan. Beberapa penulis profesional bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup, melainkan juga mendapat rezeki melimpah sehingga menjadi kaya raya berkat tulisannya yang menjadi best seller

Untuk level internasional, sebut saja J.K. Rowling yang menjadi kaya raya berkat karya fenomenalnya Harry Potter. Ada juga penulis klasik J.R.R. Tolkien yang pundi-pundi uangnya terus mengalir hingga kini berkart trilogi Lord of the Rings-nya. Dan Brown berhasil memukau dunia dengan tokoh Langdon dalam Da Vinci Code atau Angel and Demon-nya sehingga berhasil menjadi salah satu miliarder dari kegiatan menulis. Rick Riordan berhasil mengangkat kembali mitos Yunani dan Romawi dalam berbagai karyanya The Trials of Apollo. Stephenie Meyer menjadi miliarder dengan mengangkat kembali tokoh fantasi vampire dan werewolf dalam saga Twilight atau semisal New Moon-nya. John Grisham sukses dengan novel thriller atau kriminal-nya seperti The Firm atau The Whistler.

Contoh novel-novel best seller yang menjadikan penulisnya kaya raya.

Di tingkat nasional pun tidak kalah menjanjikannya. Beberapa penulis dalam negeri boleh dibilang juga mendapat berkah yang sama, walau mungkin belum sehebat dan sekaya penulis internasional. Mereka yang sukses itu diantaranya Andrea Hirata dengan novel Trilogi Laskar Pelangi-nya. Anwar Fuadi sukses dengan novel Negeri Lima Menara. Habibburahman El Shirazy juga mendapat berkah melalui novel Ayat-ayat Cintanya. Tere Liye dengan puluhan karya yang menjadi best seller. Dee Lestari banyak menelurkan novel yang sama populernya.

Pada dasarnya menulis itu mudah. Namun, mencapai level penulis yang menelurkan karya best seller seperti di atas itu yang sulit, butuh perjuangan ekstra keras. Sebagaimana profesi lain, profesi penulis membutuhkan keterampilan khusus yang harus ditingkatkan dan dikembangkan secara terus menerus. Keterampilan yang dibutuhkan tentu saja keterampilan menulis. 

Keterampilan menulis hanya akan meningkat atau berkembang kalau terus diasah dengan banyak berlatih. Seorang penulis yang ingin menjadi penulis profesional tentu harus terus menerus latihan menulis. Kalau menggunakan istilah agama, seorang penulis harus konsisten menjalani rutinitas latihan menulis. Bila perlu, canangkan di dalam hati kalau tiada hari tanpa menulis. 

Akan tetapi, membiasakan diri untuk terus menulis ternyata juga tidak mudah. Saya sendiri mengalami itu dan mungkin beberapa penulis pemula lainnya. Di awal-awal ketika keinginan menjadi penulis mulai muncul, semangat menulis begitu menggebu-gebu. Maunya terus menerus menulis secara rutin setiap hari, atau paling tidak ada yang dituliskan dalam seminggu.

Sayangnya, seiring berjalannya waktu, semangat itu terkadang memudar. Banyak calon penulis yang lama kelamaan meninggalkan aktivitas menulis. Banyak penyebab yang sering diungkapkan, mulai dari tidak memiliki ide, tidak tahan mendapat tanggapan negatif, kehilangan mood menulis begitu saja, mood menulis yang naik turun, godaan menjadi konten kreator bentuk lain (fotografer, Selebgram, Youtuber, TikToker, atau FB pro), dan lain sebagainya. 

Pada kesempatan ini, kita tidak akan membahas tentang alasan-alasan itu, melainkan membahas bagaimana cara menghindari atau mengatasi alasan-alasan itu sehingga kita benar-benar istiqomah dalam menulis. Alhamdulilah, walaupun saya belum termasuk penulis profesional yang menghasilkan karya best seller, saya bisa digolongkan sebagai penulis istiqomah. Sudah sejak 2008 sampai saat ini saya rutin menulis.. Apa saja modal dasar yang saya miliki sehingga istiqomah dalam menulis? Saya akan berbagi melalui ulasan berikut ini.

Bermental Baja

Saya sangat setuju dengan pernyataan bahwa menjadi penulis itu harus bermental baja. Boleh dikatakan, mental baja ini merupakan modal terpenting bagi seorang penulis kalau ingin konsisten. Mental baja ini sering dihubungkan dengan kesediaan menerima semua bentuk tanggapan dari para pembaca, termasuk kritikan bahkan cemoohan sekali pun. 

Tidak seorang penulis pun yang tidak pernah dikritik, termasuk penulis terkenal yang telah saya sebutkan di atas. Penulis memang harus siap dikritik terutama di awal-awal merintis karir sebagai penulis. Kritikan malah sangat baik bagi seorang penulis karena mengandung banyak pelajaran untuk meningkatkan keterampilan menulis.

Tapi siap dikritik saja ternyata belum cukup untuk menjadi penulis yang konsisten. Penulis yang ingin konsisten dalam menulis juga harus siap tidak dikritik sama sekali. Tidak dikritik berarti tidak mendapat tanggapan. Tapi itu bukanlah akhir dari perjuangan dalam menulis. Itu tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti menulis. Kalau sampai seorang penulis berhenti menulis gara-gara tidak mendapatkan tanggapan, berarti mental menulisnya masih lemah.

Tidak mendapat tanggapan sebenarnya juga bentuk kritik tapi tidak berwujud. Mungkin kalau diresapi, itu merupakan bentuk kritik yang lebih pedas daripada kritikan yang diungkapkan dengan kata-kata atau tulisan. Kalau sampai sebuah tulisan tidak ditanggapi sama sekali, berarti ada yang tidak beres dengan tulisan itu. Entah itu judulnya tidak menarik, kalimat awalnya kurang elegan, gaya penulisannya tidak nyaman dibaca, atau kesalahannya sudah terlalu banyak sehingga para pengkritik paling pedas sekalipun menjadi malas untuk memberikan kritikan.

Lalu bagaimana menyikapi situasi seperti itu? Apa yang harus kita miliki agar tetap konsisten menulis?

Menulis itu Sedekah

Pada kesempatan ini saya juga ingin mengusulkan saran yang sangat sederhana. Agar kita terus tergerak untuk menulis, coba niatkan aktivitas menulis itu sebagai sedekah. Menulis itu adalah memberi, bukan menerima. Ketika kita menulis, kita memberikan sumbangan pikiran kita kepada orang lain. 

Kalau kita kemudian tidak mendapatkan imbalan berupa tanggapan, ya sudah tidak apa-apa. Setidaknya kita sudah berniat baik untuk berbagi pemikiran lewat tulisan sekaligus mengeksekusinya. Perkara orang lain tidak butuh atau tidak menanggapi, itu urusan lain. Tetapi sebaliknya, kalau kemudian kita mendapatkan kritikan bahkan pujian, anggap saja itu bonusnya.

Lalu bagaimana cara kita meningkatkan kemampuan kalau tidak mendapatkan tanggapan sama sekali, terutama dalam bentuk kritikan?

Refleksi dan Self-Editing

Di atas saya sudah menyampaikan kalau bermental baja saja tidak cukup untuk menjadi penulis konsisten. Ada sikap dan kemampuan lain yang harus dimiliki yaitu kemauan dan kemampuan merefleksi diri sendiri. 

Jika ingin menjadi penulis konsisten, kita harus mau dan mampu mengakui sekaligus mengenali kekurangan dan kelemahan diri sendiri. Kita harus mau dan mampu mengkritik tulisan sendiri. Kita Juga harus mau dan mampu mengoreksi dan memperbaiki sendiri kesalahan dan kekeliruan dalam tulisan.

Tidak semua orang di luar sana bersedia memberikan umpan balik secara tertulis kepada kita, seperti kritikan atau pujian. Umpan balik berupa pengabaian juga tidak kalah berharganya bagi kita. Pengabaian dan ketidakpedulian orang lain terhadap tulisan kita menunjukkan ada yang salah dengan tulisan kita. Mungkin saja tulisan kita tidak atau belum dibutuhkan. Mungkin saja tulisan kita belum layak dibaca. Mungkin saja tulisan kita tidak menarik sama sekali. Apa pun itu, semuanya bisa menjadi pelajaran bagi kita. 

Kita harus menyadari bahwa kita tidak bisa selalu bergantung kepada orang lain untuk meningkatkan kualitas tulisan. Kita bahkan tidak boleh mengharapkan orang lain untuk menemukan kesalahan dan kekeliruan di dalam tulisan kita. Kita harus mampu menemukan kesalahan diri sendiri (refleksi) sekaligus memperbaikinya sendiri (self editing).

Bagaimana caranya menemukan kesalahan, kekeliruan, dan kekurangan tulisan sendiri tanpa ditunjukkan orang lain melalui kritikan?

Membaca Tulisan Berkualitas

Banyak jalan menuju Roma. Untuk mengenali kelemahan dan kekurangan tulisan sendiri, kita harus mencari pembanding. Kita harus sering-sering membaca tulisan yang berkualitas tinggi sebagai standar pembanding kualitas seperti apa yang ingin kita miliki. Ketika membaca tulisan sendiri belum senyaman membaca tulisan orang lain yang berkualitas tinggi, berarti masih banyak yang harus diperbaiki dan ditingkatkan pada tulisan sendiri itu.  

Mari banyak-banyak membaca tulisan berkualitas. Jadikan tulisan-tulisan itu sebagai standar untuk menilai tulisan sendiri. Tanyakan apakah tulisan kita sudah mendekati kualitas tulisan hebat tersebut. Kalau belum, tanyakan lagi bagian mana yang belum. Apakah bagian idenya, gaya penulisannya, tata bahasanya atau pilihan kata-katanya? Dari situ kita bisa mulai memperbaikinya.

Menelaah Komentar pada Tulisan Populer

Cara lain untuk memperbaiki tulisan sendiri adalah dengan membandingkan tulisan kita dengan tulisan orang lain yang sedang populer atau viral. Populer atau viral disini bisa positif, bisa juga negatif. Keduanya sama-sama mengandung bahan pembelajaran. Kita bisa menganalisis tulisan populer atau viral dengan pertanyaan sederhana, “kenapa banyak  orang memberikan tanggapan terhadap tulisan itu?” 

Kita dapat ikut nimbrung membaca komentar-komentar terhadap tulisan itu. Bagian mana yang disukai oleh pembaca dan bagian mana yang tidak disukai. Jika komentar-komentar yang muncul berupa kritikan, cemoohan, atau perundungan, kita bisa belajar apa saja yang dikritik atau dihujat dari tulisan itu. Sebaliknya, jika komentar-komentarnya berupa penghargaan atau pujian, kita pun bisa belajar apa saja yang disukai orang banyak dari tulisan itu. 

Setelah menganalisis tulisan populer, selanjutnya kita bandingkan dengan tulisan kita. Apakah tanggapan pada tulisan populer itu juga muncul dalam tulisan kita? Apakah kritikan itu juga berlaku pada tulisan kita? Apakah hal-hal yang disukai orang banyak dalam tulisan itu juga ada di dalam tulisan kita? 

Informasi itu bisa kita gunakan untuk mengidentifikasi kesalahan, kekurangan, kelemahan sekaligus kelebihan pada tulisan kita sendiri. Setelah itu, kita dapat memperbaikinya, entah itu berupa perbaikan pada struktur tulisan secara keseluruhan, struktur kalimat, variasi kalimat, atau diksi-diksi yang digunakan. Kalau ada hal-hal yang kemungkinan disukai pembaca, kita pertahankan. Begitu juga kalau ada hal-hal yang mungkin tidak disukai pembaca, kita tata ulang atau dihilangkan sama sekali.

Memotivasi Diri Sendiri

Selain kemampuan refleksi dan self editing di atas, kemampuan lain yang harus dimiliki oleh seorang penulis istiqomah adalah kemampuan memotivasi dan menyemangati diri sendiri. Pada umumnya kita tidak suka diabaikan. Pengabaian seringkali membunuh semangat. Hal yang sama juga berlaku dalam menulis. Ketika tulisan kita tidak dilirik sama sekali, kemungkinan besar motivasi atau semangat menulis kita akan menurun. Sayangnya, banyak penulis pemula kehilangan motivasi dan semangat gara-gara itu. 

Penulis istiqomah tidak boleh bersikap demikian. Penulis istiqomah harus memiliki kemampuan memotivasi diri sendiri. Penulis istiqomah tidak boleh menggantungkan motivasi menulisnya kepada orang lain. Motivasi menulis harus dimunculkan dari dalam diri sendiri. 

Rasanya masih bisa diterima kalau di awal-awal seorang penulis membutuhkan suntikan motivasi dari orang lain. Tapi itu tidak bisa dipertahankan terus menerus. Seorang penulis tetap harus mampu memotivasi dan menyemangati dirinya sendiri agar tetap menulis, walau seisi dunia mengabaikan. Bagaimana caranya menumbuhkan motivasi dari dalam diri sendiri? Pada kesempatan lain kita akan membahas tentang motivasi instrinsik, sebuah motivasi yang tidak bergantung dengan keadaan di luar diri atau di luar aktivitas menulis.

Niat yang Ikhlas

Motivasi dan semangat menulis biasanya sangat bergantung dengan tujuan, niat, visi, atau misi dalam menulis. Kalau tujuan atau niat menulis lebih disebabkan oleh kondisi dari luar atau dari orang lain, misalnya demi mendapatkan popularitas dan pujian dari orang lain, kemungkinan besar motivasi seperti itu cepat terkikis bahkan menghilang. Ketika kita tidak mendapatkan tanggapan sama sekali dari orang lain, kemungkinan besar kita tidak bersemangat lagi menulis.

Tapi kalau motivasi atau tujuan menulis berasal dari dalam diri sendiri dan melekat pada aktivitas yang dikerjakan (intrinsik), sifatnya lebih kekal dan mulia. Misanya, jika menulis dijadikan sebagai wujud syukur kepada Allah karena telah dianugerahi pikiran dan hati, maka motivasinya akan lebih terjaga. Selama kita merasa tulisan kita bermanfaat dan Allah meridhoi tulisan itu, kita akan tetap menulis, walaupun diabaikan atau tidak dipedulikan.

Kalau niat kita mulia dan motivasi internal kita besar, mau dikritik sepedas apapun, atau dipuji seindah apapun, atau tidak ditanggapi sekalipun, tidak akan terlalu berpengaruh terhadap rutinitas kita dalam menulis. InsyaAllah kita akan terus menulis. InsyaAllah kita akan menjadi penulis yang konsisten. Kita akan terus menulis sekaligus terus belajar dari tulisan yang telah ditulis. Kita akan terus memperbaiki diri. Setelah tulisan kita bagus pun, kita tidak akan sombong atau tinggi hati. 

Kesimpulannya, konsisten tidaknya kita dalam menulis, atau berkembang tidaknya kemampuan kita dalam menulis, tidaklah boleh bergantung pada keadaan di luar sana, semisal tanggapan orang lain. Tidak juga hanya bergantung pada seberapa kuat mental kita dalam menghadapi kritikan orang lain. 

Kekonsistenan dan perkembangan kemampuan kita menulis lebih ditentukan oleh suasana kebathinan di dalam diri kita sendiri. Sikap konsisten kita ditentukan oleh seberapa mulia tujuan dan niat kita dalam menulis, seberapa jauh visi yang hendak kita capai dari aktivitas menulis, seberapa besar misi kita dalam menulis, seberapa besar motivasi internal kita dalam menulis. seberapa nyaman kita menjalankan aktivitas menulis (motivasi instrinsik), serta seberapa mau dan mampu kita mengenali kekurangan diri sendiri dan memperbaikinya. 

Jika ada orang yang peduli terhadap tulisan kita dengan memberikan tanggapan, baik berupa pujian atau kritikan konstruktif, anggap saja itu sebuah bonus. Tapi, jangan jadikan itu sebagai faktor utama atau faktor penentu kita akan konsisten menulis atau tidak.

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat dalam membangun suasana kebathinan di dalam diri kita untuk menjadi penulis yang konsisten. Mari kita menanamkan niat yang lurus, mulia, dan ikhlas dalam menulis, karena itulah modal dasar bagi kita sebagai seorang penulis konsisten.



Komentar

Tinggalkan komentar