Memahami Dunia Siswa dari “Dalam”
Ketika kita berbicara tentang penelitian di dunia pendidikan, sering kali yang terbayang adalah angka, grafik, atau kuesioner. Namun ada satu pendekatan penelitian yang berbeda: etnografi. Metode ini tidak hanya melihat pendidikan dari luar, tetapi masuk ke dalam kehidupan siswa, guru, dan sekolah secara utuh—seperti ikut “hidup” bersama mereka.
Apa Itu Etnografi?
Secara sederhana, etnografi adalah metode penelitian yang berupaya memahami budaya, kebiasaan, nilai, dan makna yang hidup dalam suatu kelompok masyarakat. Dalam konteks pendidikan dasar, kelompok itu bisa berupa:
- siswa di satu kelas
- komunitas sekolah
- kelompok bermain
- organisasi siswa
- bahkan budaya guru di sekolah
Peneliti etnografi biasanya mengamati langsung, ikut berinteraksi, dan mencatat segala hal yang terjadi dalam keseharian mereka. Jadi bukan hanya menanyakan, tetapi benar-benar menyaksikan dan merasakan.
Bayangkan Anda duduk di pojok kelas, memperhatikan bagaimana siswa berinteraksi, bercanda, belajar, dan menyelesaikan konflik. Dari situ, Anda mencoba memahami mengapa sesuatu terjadi, bukan hanya apa yang terjadi.
Mengapa Etnografi Penting untuk Pendidikan Dasar?
Anak-anak SD berada dalam masa perkembangan sosial dan emosional yang sangat kaya. Banyak hal yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan angka. Misalnya:
- Mengapa siswa tertentu selalu diam di kelas?
- Bagaimana budaya sekolah memengaruhi semangat belajar siswa?
- Bagaimana hubungan guru dan siswa terbentuk dalam keseharian?
- Bagaimana siswa belajar bekerja sama dalam kelompok?
Dengan etnografi, peneliti bisa menemukan makna di balik perilaku, bukan hanya gejala permukaannya.
Ciri Khas Penelitian Etnografi
Beberapa ciri utamanya adalah:
- Observasi partisipatif
Peneliti ikut terlibat dalam aktivitas—misalnya mengikuti pembelajaran, kegiatan pramuka, atau upacara. - Waktu penelitian cukup lama
Agar peneliti benar-benar memahami budaya yang diteliti. - Data berupa cerita, catatan, dialog, dan pengamatan langsung
Bukan angka statistik. - Fokus pada makna dan budaya
Bagaimana nilai, kebiasaan, dan aturan tidak tertulis bekerja.
Contoh Penerapan di Sekolah Dasar
Misalnya seorang mahasiswa calon guru ingin meneliti:
“Bagaimana budaya kerja sama terbentuk dalam kegiatan kelompok di kelas IV?”
Ia bisa:
- Duduk dan mengamati kegiatan kelompok selama beberapa minggu
- Mencatat siapa yang aktif, siapa yang diam, siapa yang memimpin
- Mengobrol santai dengan siswa
- Mengamati bagaimana guru memberi instruksi
- Merekam percakapan dengan izin pihak terkait
Dari situ bisa muncul temuan menarik, seperti:
- Anak yang terlihat pasif ternyata merasa takut salah
- Anak yang dominan sebenarnya hanya ingin cepat selesai
- Budaya kelas yang kompetitif membuat sebagian anak enggan bekerja sama
Ini informasi yang sangat kaya untuk perbaikan pembelajaran.
Langkah-Langkah Penelitian Etnografi
Secara umum, alurnya seperti ini:
- Menentukan fokus penelitian
Misalnya budaya disiplin, interaksi siswa, atau hubungan guru-orang tua. - Masuk ke lapangan (sekolah)
Peneliti memperkenalkan diri dan membangun kepercayaan. - Observasi dan partisipasi
Mengamati kegiatan sehari-hari. - Wawancara informal
Biasanya berupa obrolan santai. - Mencatat secara rinci
Termasuk ekspresi, situasi, dan suasana. - Menganalisis makna
Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa? - Menulis laporan dalam bentuk cerita analitis
Keunggulan Etnografi
- Memberikan gambaran yang nyata dan utuh
- Menemukan faktor sosial-emosional yang tersembunyi
- Sangat relevan untuk memahami budaya sekolah dan siswa
- Membantu guru merefleksikan praktik pembelajaran
Tantangannya?
- Membutuhkan waktu yang cukup panjang
- Peneliti harus peka, sabar, dan etis
- Harus menjaga kerahasiaan dan kenyamanan siswa
Namun bagi calon guru, pengalaman ini sangat berharga. Kita belajar melihat siswa bukan hanya sebagai penerima materi, tetapi sebagai individu dengan dunia sosialnya sendiri.
Penutup
Etnografi mengajarkan kita satu hal penting:
👉 Untuk memahami pendidikan dasar, kita perlu masuk ke dunia anak-anak dan melihatnya dari sudut pandang mereka.
Dengan cara ini, pendidikan tidak lagi hanya soal metode mengajar, tetapi juga soal memahami manusia yang sedang tumbuh dan belajar.


Tinggalkan komentar