“CEO SPPG nyariin kamu, tuh?” kata Latifah seperti berbisik.
Dhairya tersentak kaget. Dia langsung menoleh ke arah sumber suara.
“CEO?! Kayak drama China saja,” katanya dengan mimik keheranan.
“Beneran. Itu bos SPPG yang menyediakan makan siang untuk anak-anak SD kita,” balas Latifah dengan mimik wajah sangat serius.
“Ooohh!!!” Akhirnya, Dhairya kembali menyunggingkan senyum setelah hampir setengah hari ini wajahnya kusut dan mengkerut, terutama setelah mendapat teror dari kepala sekolah pagi tadi.
“Itu kepala SPPG, bukan CEO,” ujarnya sambil kembali memajang ekspresi serius.
Tidak terlalu menghiraukan ucapan Latifah barusan, Dhairya kembali sibuk mengetik di laptopnya, menyelesaikan tugas kepala sekolah yang semakin mendekati tenggat waktu.
….
“Hai! Aku Jagaijeta. Panggil saja Jeta,” kata sang bos SPPG, mengenalkan diri ketika sudah berdiri di samping Dhairya di ruang guru.
“Saya Dhairya. Guru honorer di sini,” balas Dhairya, juga mengenalkan diri. Setelah itu, dia kembali duduk di kursinya.
“Aku sudah tahu namamu dari Latifah tadi, hehe…” Jeta menyengir, tampak salah tingkah. Dari sikapnya itu terlihat bahwa Jeta adalah laki-laki yang pemalu.
Dhairya tetap memajang tampang waspada. Tatapannya tetap penuh curiga.
“Boleh aku duduk di sini?” tanya Jeta sambil menunjuk salah satu kursi guru tepat di sebelah kiri Dhairya.
“Eh, iya. Silakan,” jawab Dhairya, tampak malu sendiri karena lupa mempersilakan duduk sebagai salah satu adab memuliakan tamu. Kecurigaannya yang tidak beralasan membuatnya kehilangan adab mulia yang selalu dijunjungnya.
Setelah duduk dengan posisi sedikit santai, Jeta langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, memeriksa keadaan sekitar. Keningnya mengernyit melihat kondisi ruang guru yang memprihatinkan. Dia tampak sibuk sendiri, melupakan niat awalnya, ingin menemui Dhairya.
Dhairya memecah kesunyian yang agak aneh ini.
“Ada keperluan apa, Pak Jeta mencari saya?” tanyanya dengan suara sopan, tenang, dan lembut. Meskipun begitu, raut wajahnya tetap memperlihatkan kecurigaan yang bercampur dengan kecemasan dan ketakutan.
“Panggil Jeta saja, enggak usah pakai Pak. Kayaknya kita masih seumuran,” balas Jeta sambil tersenyum dengan suara lembut dan menenangkan. Intonasi suaranya itu tidak memperlihatkan perasaan tinggi hati meskipun ia berstatus sebagai kepala SPPG, yang baru-baru ini sering dianggap sebagai orang kaya baru.
“Oh. Oke,” balas Dhairya dengan nada suara datar. Kecurigaan sekaligus kecemasannya belum langsung hilang.
Dalam beberapa hari ini dia menyadari satu hal. Setiap kali hal baru muncul dalam kehidupannya, saat itu juga ia menjadi masalah baru. Bisa jadi, hal seperti itu akan kembali terjadi. Bisa saja salah satu bos kantin milik pemerintah ini juga akan menjadi tumpukan masalah berikutnya yang menambah jutaan masalah yang telah menumpuk dalam hidupnya belakangan ini.
“Tadi aku sempat mampir ke kantin depan sekolah dan mencicipi salah satu jajanan di situ,” Jeta kembali bersuara.
Tapi dia tidak melanjutkan ucapannya. Dia terdiam cukup lama.
Dhairya menunggu tanpa menginterupsi.
“Kejutannya adalah aku menemukan kue Lepek Binti, kue tradisional Bengkulu yang sudah sangat langka. Terakhir kali aku mencicipinya puluhan tahun yang lalu, ketika mama masih suka membuatnya di rumah.”
Meskipun Jeta kembali terdiam beberapa detik, Dhairya tidak langsung menanggapi. Dia hanya menunggu Jeta menyelesaikan ucapannya.
“Kata Bude kantin, kue itu buatanmu.” Jeta meneruskan di antara jeda yang agak menjengkelkan. Nada bicaranya agak membingungkan. Apakah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan.
“Iya, benar,” Dhairya tetap mengonfirmasi.
“Kejutan berikutnya, rasa kue itu persis seperti kue buatan mamaku.”
“Oke,” balas Dhairya dengan kening mengernyit, sedikit kebingungan.
Jeta kembali berhenti. Kali ini sedikit dramatis. Dia menatap kosong ke depan, tampak sedang membayangkan sesuatu.
Dhairya mulai tidak sabar menanti jeda dan keheningan sepintas yang berulang-ulang yang terasa aneh. “Tee… rus?” tanyanya dengan nada suara tetap berhati-hati.
“Ibuku meninggal sewaktu aku kelas tiga SMP. Sejak saat itu, aku enggak pernah lagi makan kue itu.”
Mata Jeta tampak berkaca-kaca saat menceritakan kenyataan itu. Tampak dia sedang berusaha agar butiran-butiran bening yang mulai muncul di sudut matanya tidak tumpah.
Dhairya menoleh sekilas dan menatap mata itu. Ekspresinya langsung berubah. Kecemasan dan ketakutannya sedikit berkurang. Tebakannya, Jeta tidak berniat buruk seperti yang sempat terpikirkan olehnya barusan. Tapi dia belum tahu, apa maksud sebenarnya laki-laki tinggi besar berkulit cerah ini.
Saat dia menatap wajah Jeta sedikit lebih lama, dadanya langsung berdesir. Dia teringat sesuatu. Beberapa hari lalu, saat dia mulai merasakan beban kehidupannya seperti tak tertahankan lagi, dia pernah mengkhayalkan seorang pangeran tampan dan baik hati yang tiba-tiba, entah dari mana, menawarkan bantuan. Dia membayangkan kalau kehadiran pangeran itu benar-benar membantu mengangkat beban hidupnya yang rasanya sudah tak tertanggungkan lagi. Tapi itu semua hanya khayalan.
“Mungkin aku terdengar naif,” kata Jeta lagi. Tapi lagi-lagi dia menghentikan ucapannya. Kali ini dia mulai memberanikan diri menatap Dhairya agak lebih lama.
Ditatap seperti itu membuat Dhairya tampak sedikit salah tingkah.
“Aku ingin anak-anak Bengkulu tidak melupakan kearifan lokal yang hampir punah saat ini gara-gara budaya luar.”
Dhairya masih kebingungan, ke mana sebenarnya arah pembicaraan mereka.
Keheningan kembali muncul.
“Aku ingin mengajakmu bekerja sama. Kamu menjadi penyedia kue-kue tradisional untuk dijadikan salah satu menu MBG di SD-SD di kota kita,” ucap Jeta yang kali ini mulai mengukir senyuman indah di bibirnya.
Tawaran kerja sama dan senyuman indah itu merupakan kombinasi terindah yang ternyata masih bisa ditemukan oleh Dhairya. Sepertinya, itu adalah satu-satunya keindahan yang masih bersahabat dengannya.
Diam-diam Dhairya mencubit tangannya sendiri. Ini seperti mimpi. Dia takut ini benar-benar mimpi. Khayalan iseng beberapa hari yang lalu seperti menjadi kenyataan.
Benarkah laki-laki tampan di hadapannya sekarang adalah seorang pangeran yang akan menariknya dari kubangan masalah yang membuatnya hampir tenggelam?


Tinggalkan komentar