Rasa penasaran terhadap keanehan suaminya mengalahkan ketakutan Miranda terhadap pengirim pesan misterius yang telah menerornya beberapa hari ini. Meskipun kata-kata si pengirim pesan sulit dipercaya, dia merasakan banyak kesesuaian dengan apa yang dilihatnya pada suaminya. Sudah beberapa hari ini suaminya berubah. Perubahan itu mencurigakan. Kecurigaannya semakin memuncak karena tadi malam suaminya sama sekali tidak pulang.
Tidak tahan menanggung rasa curiga tanpa penjelasan, dia pun memutuskan untuk menemui pengirim pesan misterius itu. Kalau si pengirim pesan memang mantan pacar suaminya, dia akan memperingatkannya secara langsung, agar tidak lagi mengganggu suami dan pernikahannya.
Tepat memasuki jam makan siang, Miranda langsung meninggalkan kantor menuju kafe yang disebut si pengirim pesan, tempat mereka janjian bertemu. Mobilnya meluncur kencang di jalan raya yang cukup lengang. Tiga menit kemudian dia pun tiba di lokasi. Diparkirkannya mobil tepat di depan kafe.
Setelah melewati pintu masuk, dia langsung memilih tempat duduk di bagian tengah yang suasananya cukup ramai, berjaga-jaga. Dia tetap harus waspada. Meja tempat duduknya tidak terlalu besar dan hanya ada dua kursi. Dia duduk di salah satu kursi yang menghadap ke jendela. Dari situ dia dapat leluasa mengamati orang-orang yang hendak masuk ke kafe.
Dia baru saja ingin mengetik pesan kepada si pengirim pesan ketika tiba-tiba seorang laki-laki menyapanya.
“Menunggu seseorang, Mbak?” tanya laki-laki itu.
Rupanya suara itu berasal dari seorang laki-laki ganteng dan gagah yang kini berdiri tepat di samping mejanya. Laki-laki itu sedikit berwokan dan berjenggot. Kumisnya juga ada, tapi sangat tipis. Sepintas, tampangnya sangat maskulin.
“Iya.” Miranda menjawab sesantun mungkin.
Dari wajah dan bahasa yang digunakannya tadi, dapat dipastikan bahwa laki-laki itu juga berasal dari Indonesia. Tidak salah kalau Miranda bersikap ramah. Walau dia sering bertemu orang Indonesia, terkadang dia kurang antusias karena sebagian dari mereka malah lebih suka iseng dan main-main. Makanya dia juga kurang terlalu antusias dengan laki-laki yang sedang berdiri di samping mejanya saat ini.
“Sudah janjian sebelumnya, ya?” tanya laki-laki itu, masih berdiri di tempatnya semula.
Miranda mulai merasa sedikit tidak nyaman. Dia hanya mengangguk.
“Janjiannya lewat pesan WA, ya?” tanya si laki-laki lagi.
Miranda mulai kehilangan kesabaran. Dia mulai memasang ekspresi kesal. Dijawabnya pertanyaan si laki-laki dengan judes, “Iya!” Dia berharap laki-laki itu menyadari bahwa dia tidak nyaman ditanya seperti itu oleh orang baru.
“Aku duduk, ya,” kata laki-laki itu, langsung duduk, tidak menunggu Miranda mempersilakan.
“Maaf, Mas. Kursi itu sudah ada orangnya. Sebentar lagi dia datang,” kata Miranda buru-buru mengingatkan, namun tetap dengan kata-kata yang sopan, walau sebenarnya dia mulai risih dengan laki-laki yang kini sudah duduk anteng di depannya itu.
“Memangnya Mbak sudah tahu orang yang mau duduk di kursi ini?” Si laki-laki bertanya sambil menyeringai, tampak sangat meremehkan.
“Mas, jangan membuat saya marah, ya! Silakan tinggalkan saya sendiri! Saya ada janji dengan orang lain!” Miranda pun akhirnya memberikan ultimatum pertamanya. Nada suaranya terdengar mulai meninggi.
“Tidak usah terbawa emosi seperti itu, Mbak. Santai saja. Tidak ada orang lain yang akan duduk di sini. Sayalah yang membuat janji dengan Mbak lewat WA kemarin,” jawab si laki-laki dengan santai tapi tegas, masih memasang ekspresi anehnya.
“Bukan, Mas! Saya tidak sedang menunggu laki-laki seperti sampeyan. Saya sedang menunggu seorang wanita!” jawab Miranda, mulai memanas melihat ketidaksopanan laki-laki yang ada di hadapannya.
“Darimana Mbak yakin kalau yang mengirim pesan itu seorang wanita? Bukankah Mbak tidak pernah mengangkat telepon kemarin-kemarin?” Laki-laki itu kembali menyeringai meremehkan.
Emosi Miranda makin memuncak. Tapi dia urung meluapkannya karena apa yang disampaikan si laki-laki persis seperti yang dialaminya. Dari mana laki-laki ini bisa tahu semua hal tentang pesan kemarin? Tanyanya dalam hati.
Miranda tidak menanyakan itu. Dia malah bertanya,
“Maunya sampeyan apa, sih?!” teriaknya. Rupanya dia mulai tidak tahan untuk tidak marah.
“Aku ingin menceritakan rahasia seperti yang kujanjikan dalam komunikasi kita kemarin,” kata laki-laki itu dengan penuh percaya diri.
Miranda tampak berpikir keras. Karena laki-laki di hadapannya mengetahui semua hal tentang pesan-pesan yang mereka kirimkan kemarin, kemungkinan besar, laki-laki inilah yang mengiriminya pesan itu. Dia pun mulai mengatur napas untuk menenangkan diri.
Setelah cukup tenang, Miranda mulai mengajukan pertanyaan kepada laki-laki di hadapannya,
“Mas siapanya suamiku? Kenapa Mas sangat yakin mengetahui rahasia suamiku? Seingatku, suamiku tidak pernah menceritakan kalau dia punya teman seperti sampeyan.”
“Aku lebih dari sekadar teman suamimu. Aku adalah rahasia terdalam suamimu,” balas si laki-laki, masih menyeringai aneh.
Kening Miranda langsung mengkerut amat dalam. Dadanya langsung berdegup kencang. Kebingungannya makin menjadi-jadi. Dia bahkan tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Dia pun diam terpaku, mencoba memikirkan maksud kata-kata laki-laki itu.
Tidak menunggu tanggapan dari Miranda, si laki-laki misterius langsung melanjutkan, “Semenjak menikah denganmu, Robert banyak berubah. Dia mulai melupakan janji yang sudah kami jaga selama sepuluh tahun ini. Dia seolah-olah telah melupakan ikrar itu. Dia seperti mulai menjauh. Dia selalu beralasan ketika diajak bertemu. Tidak seperti dulu-dulu.”
“Sudahlah, Mas. Jangan ngelantur. Mas mau apa dari saya?” Miranda sepertinya mulai kehabisan kesabaran menghadapi laki-laki aneh di depannya.
“Tinggalkan Robert! Dia milikku! Selamanya!”teriak laki-laki itu. Dipasangnya tampang paling sangar yang pernah dimilikinya. Sengiran dan seringainya mendadak berubah menjadi raut penuh kebengisan. Raut wajah itu khas milik orang yang sedang dilanda amarah yang luar biasa.
Miranda tersentak kaget. Jantungnya langsung berdegup makin kencang. Darahnya mengalir lebih deras. Dadanya serasa terbakar. Kepalanya langsung berdenyut-denyut. Sekujur tubuhnya seketika memanas. Bukan hanya tampang sangar laki-laki itu yang membuatnya ketakutan luar biasa, tetapi pernyataannya yang aneh semakin membuat ketakutannya bertambah berkali-kali lipat.
Pikirannya pun langsung menerawang ke hal-hal aneh yang tidak pernah terbayang sebelumnya.
“Jadi Robert adalah seorang …” katanya tercekat, tidak dapat melanjutkan ucapan itu.
Lanjut ke kepingan berikutnya >>>


Tinggalkan komentar