Bab 1. Muslihat Kepala Sekolah

Dilihat dari bangunan maupun reputasinya, sekolah dasar itu cukup mencolok. Tapi itu bukan tentang keindahan dan prestasi. Melainkan tentang keprihatinan dalam bertahan di tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Walaupun lokasinya tidak jauh dari pusat kota, bangunannya tampak jauh ketinggalan zaman. Masih ada ruang kelas yang dindingnya terbuat dari papan-papan yang mulai lapuk.

Seluruh permukaan atapnya sudah berubah menjadi cokelat tua akibat karat yang merajalela. Plafon tripleks yang dipasang untuk mencegah anak-anak terkena panas dari atap sudah berguguran sejak

lama. Ritual para murid dan guru mengelap keringat di tengah jam pelajaran sudah menjadi pemandangan yang lumrah.

Meskipun begitu, masih cukup banyak nasib anak manusia yang digantungkan di langit-langitnya. Masa depan para siswa sangat ditentukan oleh bagaimana mereka diperlakukan oleh para guru yang mayoritas sudah senior di sana. Keberlangsungan hidup guru honorer juga sangat bergantung pada dana bantuan pemerintah yang dikucurkan ke sekolah sesuai dengan jumlah siswa.

Rasanya, hanya para guru berstatus aparat sipil negara yang bisa tersenyum semringah setiap bulannya karena gaji mereka sudah dilipatgandakan oleh pemerintah. Meskipun faktanya, kinerja mereka tetap sama saja, bahkan sebagian malah menjadi lebih parah dari sebelumnya.

Dhairya, seorang perempuan muda berusia dua puluh lima tahun, merupakan salah satu guru honorer yang menggantungkan nasibnya di sana. Pagi ini dia berlari-lari kecil melewati gerbang sekolah, tampak sangat terburu-buru. Wajahnya pucat pasi setelah melihat jarum jam di pergelangan tangannya. Pagi ini dia terlambat datang!

Untuk ukuran warga sekolah di sana, keterlambatan merupakan hal biasa. Apalagi itu baru sepuluh menit. Tapi bagi Dhairya, itu bisa menjadi malapetaka luar biasa yang akan memengaruhi masa depan dan kelangsungan hidup dirinya dan keluarganya.

Sebelum ke sekolah tempatnya bekerja, Dhairya menyempatkan diri mampir ke SMA tempat adik perempuannya bersekolah. Dia harus menemui kepala SMA secara langsung untuk memberitahukan kalau adiknya tidak bisa ikut studi banding ke luar kota. Ongkos yang dibebankan oleh sekolah untuk kegiatan itu tidak berhasil dikumpulkan.

Sebenarnya Dhairya tidak ingin mengecewakan adiknya. Boleh dikatakan, dia rela melakukan segala macam cara demi membuat adiknya bahagia. Semua upaya sudah dilakukannya untuk mengumpulkan uang yang harus disetor ke sekolah. Tapi jumlah yang terkumpul sangat kecil, masih jauh dari jumlah yang harus dibayarkan kepada panitia. Hingga batas waktu yang ditentukan, yaitu hari ini, dia tetap tidak mampu menyediakan uang sesuai dengan jumlah yang telah diinformasikan sebelumnya.

Kalau saja ayahnya masih hidup, mungkin masalah itu akan dengan mudah diatasinya. Ayahnya merupakan sosok yang sangat bertanggung jawab dan bijaksana. Walau hanya seorang pekerja serabutan, dia selalu mampu mengatasi semua masalah keluarganya, sebesar apa pun masalah dan kesulitan yang dihadapinya. Dhairya berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana berkat kerja keras ayahnya.

Tiba-tiba butiran bening menyeruak di sudut mata Dhairya tatkala raut wajah laki-laki tangguh berwajah teduh itu terbersit begitu saja di ingatannya. Segera dikeluarkannya tisu. Sambil terus melangkah cepat, dihapusnya butiran bening yang mulai antre bergulir di pipi mulusnya. Emosinya sedikit tidak terkendali pagi ini.

Langkahnya semakin cepat ketika melewati lapangan tanah kuning yang luas di tengah-tengah sekolah. Suasana tampak lengang karena para murid sudah masuk kelas untuk mengikuti pelajaran pertama.

Sambil terus melangkah, pikirannya mulai berandai-andai. Andai saja ibunya masih sehat, uang untuk studi banding adiknya masih memungkinkan untuk diusahakan. Akan tetapi, semenjak mulai sakit dua bulan lalu, dan semakin parah dua minggu kemudian, ibunya tidak bisa lagi berjualan di pasar. Otomatis, tidak ada lagi sumber pemasukan keluarga mereka selain dari penghasilannya sebagai guru honorer.

Honor yang diterima Dhairya setiap tiga bulan sekali itu pun tidak akan pernah cukup untuk membayar uang studi banding adiknya. Jangankan untuk studi banding, untuk makan sehari-hari saja, upah yang tidak berperikemanusiaan itu malah jauh panggang dari api. Dhairya terpaksa melakukan beberapa pekerjaan sampingan untuk menutupi kekurangannya.

Ketika para mahasiswa sedang menjalani musim ujian, dia menawarkan jasa pengeditan naskah skripsi. Upah dari jasa itu lumayan menjanjikan. Namun, itu tidak berlangsung sepanjang tahun. Paling-paling dalam satu tahun, hanya dua atau tiga bulan dia mendapat banyak pesanan jasa pengeditan.

Beberapa mahasiswa pernah menawarinya honor yang jauh lebih besar, sampai jutaan rupiah, tapi permintaannya tidak sesuai dengan hati nuraninya. Mereka minta dibuatkan skripsi utuh. Dengan lembut, Dhairya menolaknya, meskipun di dalam hati dia sempat tergoda.

Waktu senggang di malam hari dimanfaatkannya untuk membuat kue jajanan anak-anak. Pagi harinya kue itu dibawa ke sekolah untuk dititipkan di kantin. Walaupun untungnya tidak banyak, cukuplah untuk membeli sayuran sehari-hari.

 “Bu Dhar!!!”

Lamunan Dhairya buyar ketika nama panggilannya sehari-hari terdengar dari seberang lapangan. Dia langsung menoleh ke sumber suara. Rupanya itu suara Bu Surtini, ibu kepala sekolah.

“Ke ruangan saya dulu!” teriak Bu Surtini dari depan pintu kantor kepala sekolah.

Karena jarak mereka cukup jauh, Dhairya terpaksa menjawab hanya dengan anggukan. Tanpa berpikir panjang, dia langsung memutar badan dan melangkah cepat menuju ruang kepala sekolah.

***

“Kalau tidak sanggup dan tidak mampu lagi bekerja di sini, berhenti saja! Tidak ada yang memaksa kamu tetap di sini!” Bentak Bu Surtini dengan sangat geram.

Dia sebenarnya belum lama ditunjuk menjadi kepala sekolah di SD ini, baru tiga bulan yang lalu. Tapi mungkin karena karakternya memang keras dan temperamental, dia tidak segan untuk langsung melampiaskan amarahnya kepada siapa pun yang tidak memenuhi harapannya.

Dhairya yang duduk tepat di depan meja Bu Surtini hanya tertunduk ketakutan. Wajahnya kembali pucat pasi.

“Sudah datang terlambat, pekerjaan juga tidak kelar-kelar!” rutuk Bu Surtini lagi masih dengan muka memerah karena marah.

Dhairya masih tidak mampu mengangkat kepala. Dia bukannya tidak mau menyelesaikan tugas tambahan yang diberikan kepala sekolah seminggu yang lalu itu. Belakangan ini dia tidak bisa bekerja di rumah karena harus merawat ibunya yang sakitnya semakin parah. Pikirannya bercabang ke mana-mana. Sedangkan untuk menyelesaikan tugas itu, dia harus berpikir jernih dan fokus.

Dhairya tampak hendak menyampaikan sesuatu, mungkin ingin menjelaskan kondisi yang sedang dihadapinya kepada Bu Surtini, tapi segera diurungkannya karena merasa itu akan percuma. Sudah terlihat sangat jelas kalau Bu Surtini sangat tidak menyukai dirinya sejak pertama kali ditugaskan di sini dengan berbagai alasan.

“Saya tunggu sampai nanti siang!” Akhirnya Bu Surtini memberikan ultimatum.

“Baik, Bu. Akan segera saya selesaikan,” balas Dhairya dengan suara terdengar sedikit bergetar.

“Cepat kembali ke meja kerjamu! Kerjakan segera tugas itu! Hari ini adalah batas akhir penggunggahannya! Jangan sampai kamu merusak mood saya hari ini!”

Dhairya berdiri tanpa berani mengangkat kepala sama sekali. Dia tidak berani menatap wajah Bu Surtini itu, yang selain sangar juga sering berdandan mencolok, seperti tidak tahu cara berdandan. Ucapan dan riasannya sering kali setali tiga uang.

Dhairya berjalan cepat meninggalkan ruang kepala sekolah. Dia ingin cepat-cepat meninggalkan ruangan yang belakangan ini sudah seperti neraka. Hari ke hari kecemasannya semakin menumpuk. Dia semakin tidak yakin dapat mempertahankan status honorernya di sekolah ini.

Dia pernah mendengar isu bahwa Bu Surtini memang sengaja membuatnya tidak betah. Alasannya sederhana, dia ingin memasukkan kerabatnya yang baru wisuda ke sekolah ini. Peraturan terbaru dari wali kota dengan tegas membatasi tenaga honorer. Jatah honorer di sekolah ini sudah penuh. Otomatis, Bu Kepsek temperamen itu tidak bisa langsung mengangkat kerabatnya itu.

Selain itu, kepala sekolah juga tidak bisa memberhentikan tenaga honorer tanpa alasan yang jelas. Hanya pelanggaran disiplin yang berat yang bisa dijadikan sebagai dasar pemberhentian itu. Pelanggaran tingkat sedang yang dilakukan secara berulang memang bisa menjadi alasan. Tapi itu jarang terjadi.

Hingga minggu lalu, Dhairya tidak pernah melakukan pelanggaran. Seberat apa pun pekerjaan yang diberikan kepala sekolah, dia mampu menyelesaikannya. Sebanyak apa pun tuntutan yang diminta kepala sekolah, dia mampu memenuhinya.

Dia memang sempat mengeluh dalam hati kenapa dia mendapat perlakuan yang tidak adil. Besaran honor yang diterimanya setiap bulan sama dengan honorer yang lain. Tapi pekerjaan yang harus dia lakukan jauh lebih banyak dan lebih berat dibandingkan dengan mereka.

Sebenarnya guru honorer di sekolahnya lumayan banyak, ada sebelas orang. Namun, sepuluh orang lainnya punya kerabat di sekolah, baik guru maupun staf TU. Hanya Dhairya yang tidak memiliki kerabat dekat. Dia diterima benar-benar atas pertimbangan kemampuan yang dimilikinya.

Pada waktu itu, kepala sekolah yang lama sedang berupaya meningkatkan akreditasi sekolah. Dia butuh orang yang memang cerdas, rajin, pandai menulis, dan pandai mengoperasikan hal-hal berbau TIK. Dhairya memenuhi semua persyaratan. Dan dia benar-benar bisa diandalkan! Berkat kontribusinya yang luar biasa, sekolah berhasil meningkatkan akreditasi dari C menjadi B!

Dhairya segera meninggalkan ruang kepala sekolah dengan tergesa-gesa. Dia tidak mengurangi kecepatan saat berjalan menuju ruang guru. Ketika dia masuk, ruangan lengang karena para guru sedang masuk ke kelas masing-masing. Meskipun biasanya lebih banyak yang nongkrong di warung Bude Karmi di pinggir jalan.

Tanpa banyak seremoni, dia langsung duduk di mejanya lalu membuka laptop. Jantungnya kembali berdegup kencang ketika muncul pemberitahuan dari aplikasi pengingat di layar laptop! Hari ini juga merupakan batas akhir untuk sebuah proyek pribadinya!


Lanjut ke Bab 2. CEO SPPG >>>



Komentar

Tinggalkan komentar